Senin, 13 Mei 2013

Kapan Nyusul?


Kapan nyusul?

Sepatah kata pertanyaan yang mampu mengheningkan gelak tawa. Memberikan pemikiran mendasar untuk bergerak kedepan.

Kemarin malam, ada acara keluarga besar dirumah. Prosesi lamaran gitu. Sodara sepupu aku, Mba Dinda, dilamar sama pacarnya, mas Putra.  Acara berjalan lancar sih, penuh rahmat dan cipika-cipiki antara keluarga besar masing-masing (padahal mata sambil merem-merem). Aku sama sodaraku yang lain, si Aji. Nggak lain adalah sesama penghuni rumah ini, sesama saling beradu nasib dikota orang, dan juga sesama...numpang tinggal. Kita ini udah punya rencana dan tujuan lain dibalik acara ini, yang udahberjam-jam kita pikirkan. Mata kita hanya tertuju pada satu objek. Ya, makanan-makanan dalam
cathering yang genit menggoda. Melambai-lambai penuh hasrat untuk segera dinikmati. Sengaja dari sore hari perut udah aku kosongin, biar malemnya bisa ngemuat berbagain macam makanan yang memang udah nggak sabar buat digauli. Eh.

Disini juga semacam quality time gitu, kumpul-kumpul keluarga besar. Berbagi cerita harian, saling tertawa satu sama lain. Seperti udah nggak ketemu 20tahunan aja. Kami saling berjabat tangan, saling cipika-cipiki, saling cibi (baca:ciumbibir), LOH. Soalnya udah lama nggak ngumpul gini. Wajarlah untuk melakukan hal-hal yang sedikit ekstrim. Maklum sih udah abege beranjak gede, jadi punya kesibukan masing-masing  (padahal aku sama Aji sehari-harinya cuman kayak ikan pepes diatas kasur, tidur). Saling ngobrol hari-hari kuliahlah, keadaan di rumah atau Semarang lah, juga tentang bahasan yang lebih privasi. Pacar. Mendengar kata itu telingaku seakan tersengat lebah. Sakit. Ketika yang lain mulai bercerita mengenai pacarnya masing-masing, aku sama si Aji diam-diam kudeta dari lingkaran gosip, menuju ke kehidupan yang lebih baik. Stand makanan.

‘Daripada bahas begituan mending kita berburu makanan, ya nggak ka hahaha’ kata Aji dengan matanya yang udah jelalatan kayak lagi ngeliat cewek bugil aja.

‘Iya juga sih ya hahaha’ aku berjalan membuntuti si Aji, layaknya Scooby-Doo yang ngikutin Shaggy kemanapun. (aku bukan anjing). Oke, gaje.

Beberapa saat kemudian kitapun balik ke formasi abege lagi, yang sedang asik ngerumpi tanpa memikirkan keadaan perut mereka yang meronta-ronta. Si Aji membawa dua porsi makanan, nggak heran juga sama ukuran bodinya yang kayak kuda laut.

‘Darimana aja kalian, lagi asik-asik ngumpul malah ngilang.’ Celetuk Mba Ani, kakaknya Aji.

‘Biasa...cucimata dululaah hehe’ jawab Aji sekenanya.

‘Cucimata apa ngisi perut lo.’ timpal Mayang.

Setelah beberapa saat, mulai lagi bahasan yang nyengat telinga itu, Mayang yang memulainya.

‘Gimana sama kalian?’ 

‘Gimana apanya sih?’ jawab aku bego.

‘Itu, hubungan lo sama pacar lo. Atau jangan-jangan...’

‘LO JOMBLO YAAA!!!’ timpal mereka semua sambil ketawa jahat penuh semangat.

Aku sama si Aji cuman diem sambil tertunduk lesu. Seakan nasib begitu sial. Dalam hati aku menyungut‘situasi yang sangat melecehkan harga diri'.

Akhirnya karena aku nggak mau direndahkan, maka aku balas.

‘Aku nggak jomblo!’

‘Terus apa? Kok ditanya pacar lo mana malah diem.’ bales Dana, adik si Mayang.

‘Aku single bukan jomblo!’ 

‘Yeeee...sama aja kaliiii’ jawab mereka sambil kesel.

‘Kan beda. Kalo jomblo itu kesannya miris banget kayaknya nggak laku-laku.’ 

‘Emang lo laku?’ seru suara dari belakang, ternyata si Rani yang baru ngambil minum.

‘Kayak nggak tau aku aja, kan gini-gini yang naksir banyak hahaha’

‘Cuman nggak ada yang pas aja, beda kalo sama si Aji tuh. Jangankan cewek, bencong Kaligawe aja ogah ngelirik dia hahaha’ lanjut aku sambil terbahak.

‘Taikloka...’ bales Aji sewot.

Beberapa saat kami berdebat soal bahasan yang menyengat telinga itu, saling nyeritain masing-masing pengalaman, pamer segala macamlah tentang pacarnya. Sampai muji-muji layaknya Pangeran Harry dari Inggris aja. Sampai gendang telinga rasanya mau pecah. Cuman kita berdua yang diem. Hanya bisa memamerkan perut kami yang mulai membuncit dengan gagahnya. Lupakan. Sampai tiba-tiba Mba Dinda lewat sambil lari terseok-seok, kayak dikejar Hendro (sejenis makhluk penunggu alas roban).

‘Kenapa, Mba? Tanya kita-kita.

Hening.
Nggak ada jawaban dari Mba Dinda, cuman nglewati kita-kita sambil terseok-seok masuk WC dengan Hendro yang mengikuti dari belakangnya sambil mengaung. (Hendro ini setengah serigala bertubuh kuda).

Selang beberapa menit Mba Dinda muncul lagi, seperti hantu yang dateng dan pergi seenaknya. Kali ini tanpa Hendro dibelakangnya. Mungkin Hendro nyangkut dibolongan WC. Atau jangan-jangan itu memang rumahnya.

‘Kayaknya lagi pada asik ngerumpi nih, ngebahas apaan?’

Hahaha biasa anak-anak abege baru gaul gitu.’ timpal kami.

‘Haaah? Kalian habis digauli sama siapa?!’

‘Abege gaul bukan digauli zzzz’ Jawab kami mangkel.

Sepertinya Hendro telah masuk ketelinga Mba Dinda, makannya jadi salah denger gitu. Atau masuk ke dalam otaknya, karena diketahui Hendro selain makhluk yang menyeramkan, juga sedikit mesum. Gak nyambung.

Asik, gerombolan Prajitno junior nih. Terdengar semacam nama boyband penuh dengan orang idiot. Nggak nggak. Prajitno itu nama keluarga besar kami, Ayah dari para orangtua kami. Oke lupakan.

‘Eh, kalian kapan nyusulin nih? Yang cowo kapan pada ngelamar cewenya, nah yang cewe kapan kapan dilamar, jangan-jangan cuman PHP lagi hahaha’ sahut Mba Dinda lagi.

‘Kalo kita-kita sih nunggu waktu, nggak tau kalo si Eka sama Aji hahaha’

‘Monyet semua’ jawab aku sama Aji gondok.

Aku ngerasa ada ditempat yang salah, semacam ketika jaman ospek, pembullyan yang teramat brutal. Mungkin bisa menyebabkan korbannya gagar otak.

‘Loh Eka sama Aji masih jomblo? Udah kuliah lhooo.’ celetuk Mba Dinda.

‘Kita bukan jomblo, cuman single. Melainkan dalam fase pencarian pujaan hati, untuk nemuin seseorang yang pas.’ jawab aku sok puitis.

‘Bisa aja lo ngelesnya, Ka. Terus kapan? Waktu terus berjalan lho, makin hari makin tua. Jangan sampe jadi perjaka tua hahaha’ sahut Mba Dinda diiringi gelak tawa sodara laknat.

‘Gatau deh, Mba.’ bales aku lesu.

‘Nyari itu gausah  nurutin keinginan kita, nggak ada habisnya. Mending nyari yang sesuai dengan kebutuhan, yang bisa saling mengisi satu sama lain.’

Aku diem, perlahan mencerna arti kata itu.

Suasanapun kembali terpecah, kamipun kembali ngerumpi ria dibarengi gelak tawa. Tapi disudut kursi aku masih mikir tentang perkataan Mba Dinda tadi. ‘Kapan nyusul?’ Bertanya-tanya pada diri sendiri, seolah seperti orang bego seketika. Lebih susah ngejawabnya dari soal kalkulus sekalipun.

Jampun terus berputar. Menunjukkan pukul 22.00, acara lamaranpun selesai dengan lancar (bagi aku amat menyiksa). Sodara-sodara mulai pada pulang. Aku, Aji, Mba Ani nggak lupa untuk sekedar bantu-bantu ngeberesin. Nggak enak juga numpang, masa iya mau masa bodoh aja. Selesai beres-beres kami masuk kamar masing-masing. Aku yang sekamar bareng Aji cuman bisa meringkuk disudut kasur. Karena emang badannya yang dua kali lipat dari badanku dan, satu kasur berdua.

Malam semakin larut tapi belum juga tidur. Acara tv nggak ada yang bagus, udah dimerem-meremin juga nggak bisa tidur. Sedangkan disebelah , seperti ada suara kerbau bergemuruh. Pikir aku ngapain kerbau jam1 malem masih melek, apa lagi pada ronda, atau juga insomnia kayak aku. Serem juga bayangin kerbau insomnia ngeronda sambil mata merah penuh darah. Lupakan. Makin lama makin keras, gemuruh itu makin mengganggu, berubah menjadi dengkuran-dengkuran hebat. Lama-lama bisa keluar nanah juga dari telinga. Pas aku buka selimut sambil nengok ke samping, ternyata ada kerbau beneran! Kerbau itu terlelap tidur dengan mulut setengah terbuka, dengan selimut yang membungkusnya. Ternyata ini sodaraku, Aji. Ini manusia apa kerbau panggang saos tiram.

Aku masih saja bergulat dengan mata, memaksakannya untuk tertidur. Sepintas aku teringat percakapan tadi. Percakapan tentang ‘kapan nyusul?’. Sejenak aku terdiam,  dan bertanya pada diri sendiri ‘kapan waktuku? Kapan waktuku untuk bergerak kedepan. Mengisi dan menutup hati ini dengan satu orang yang mampu ngeyakinin semua keraguan untuk bergerak kedepan.’ Menyusul Mas Putra, yang sebagai laki-laki menjawab semua keraguan itu dengan prosesi lamaran, dan bersiap untuk menjadikannya pendamping hidup, yang menemani perjalanannya susah senang didunia ini.
Aku pikir, aku butuh waktu untuk itu semua.

Tapi disisi lain, hati ini sudah terisi dan tertutup. Dengan seseorang berupa bayangan, yang mampu ngeyakinin keraguan hati yang selama ini membayangi. Cukup dengan kamu untuk mengisi dan memberi kehidupan pada hati ini, memberi warna-warni kehidupan yang telah lama padam. Memang kamu masih hanya sebuah bayangan, tapi suatu saat nanti aku akan mencoba untuk menjadikanmu sebagai kenyataan. Tinggal menunggu perkara waktu untuk menjawabnya, berharap semesta berpihak dan... restu Tuhan, untuk mewujudkannya.


1 komentar: